Cycling for Ecojustice WALHI Lampung Merayakan Hari Keadilan Ekologis 2026
Gowes, Kampanye, hingga Lapak Baca : Cara WALHI Lampung Rayakan Hari Keadilan Ekologis
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Lampung melakukan kegiatan Cycling for Ecojustice pada Minggu (20/09/2026) pagi. Kegiatan ini lebih kurang sekitar 50 pesepeda dari berbagai kalangan usia yang menyusuri Kota Bandar Lampung, mulai dari Pasar Tengah dengan rute yang ditempuh melewati kawasan Masjid Al-Bakrie, dilanjutkan ke Jalan Pangeran Antasari, lalu Jalan Morotai, hingga akhirnya tiba di titik finish, Pasar Kreatif dan Seni PKOR untuk menyuarakan keadilan ekologis.
Kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan Hari Keadilan Ekologis, yang mana tahun ini merupakan peringat pertama hari Keadilan Ekologis setelah dideklarasikan WALHI pada 20 September 2025 di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, bersamaan dengan Pertemuan Nasional Lingkungan Hidup (PLNH) XIV yang dihadiri sekitar seribu orang dari jaringan aktivis lingkungan se-Indonesia dan beberapa aktivis internasional jaringan WALHI. Hari Keadilan Ekologis lahir dari keresahan bahwa janji kemerdekaan untuk melindungi rakyat dan bumi pertiwi belum sepenuhnya terwujud, di tengah krisi lingkungan yang terus memburuk dari tahun ke tahun. Peringatan tahun ini mengusung tema nasional “Dari Tapak untuk Keadilan Antargenerasi”, yang menegaskan bahwa dampak kerusakan lingkungan hari ini akan diwariskan pada generasi mendatang jika tidak segera dihentikan.
Melalui gowes bersama, WALHI Lampung mengajak masyarakat memandang persoalan lingkungan sebagai bukan sekedar isu teknis, melaikan persoalan hak warga atas ruang hidup yang sehat dan adil. Besepeda dipilih sebagai medium kampanye karena aksinya sejalan dengan yang disuarakan.
Menurut Direktur WALHI Lampung, Irfan Tri Musri “Bentuk solidaritas kita yaitu kita memberikan contoh bahwa bersepeda merupakan salah satu cara kita untuk berkampanye dan menyuarakan situasi planet ini yg tidak baik baik saja, karena seperti kita ketahui bahwa emisi terbesar salah satunya di dunia ini yaitu dari sektor transportasi".
Kegiatan yang dimulai pukul 06.30 WIB dengan titik kumpul di Pasar Tengah. Sebelum jalan, panitia lebih dahulu memberikan briefing singkat mengenai rute yang akan ditempuh menuju PKOR, dilanjutkan doa bersama agar seluruh rangkaian acara berjalan lancar dan aman. Peserta tampak antusias, lengkap dengan atribut bersepeda masing-masing, sebelum akhirnya melaju bersama menyusuri jalanan kota.
Sepanjang perjalanan, suasana kebersamaan begitu terasa. Para pesepeda terlihat menikmati setiap kilometer rute yang dilalui, saling menyemangati satu sama lain sembari sesekali berhenti untuk mengambil gambar (foto). Setibanya di lokasi finish, peserta disambut hidangan sehat yang telah disiapkan panitia secara gratis, mulai dari umbi-umbian, pepaya, jagung rebus. Pilihan menu ini sejalan dengan semangat gaya hidup sehat dan ramah lingkungan yang diusung sepanjang acara.
Rangkaian kegiatan berlanjut dengan mini talkshow yang menghadirkan Direktur WALHI Lampung bersama sejumlah narasumber lain, membahas lebih dalam mengenai Hari Keadilan Ekologis dan tantangan lingkungan yang dihadapi Lampung. Sesi ini kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab interaktif, di mana peserta yang aktif bertanya maupun menjawab berkesempatan membawa pulang doorprize dari panitia.
Tak hanya talkshow, WALHI Lampung juga menyediakan layanan cek kesehatan gratis serta lapak baca yang menampilkan berbagai literatur seputar isu lingkungan. Kedua Fasilitas ini menjadi salah satu titik paling ramai, dengan peserta dari kalangan muda hingga orang tua antre bergantian untuk memeriksa kesehatan maupun sekedar membaca-baca buku yang tersedia.
Di sela acara, beberapa peserta turut menyampaikan harapan mereka.
“Harapannya untuk Bunda Eva buat jalur pesepeda karena seperti yang aku lihat beberapa tempat di Bandar Lampung jalur sepedanya ada tapi sudah pudar, biar lebih safety. Semoga kegiatan ini juga tetap berlanjut dan tidak pernah berhenti karena memang baik untuk kesehatan” harapan dan pesan dari peserta.
Harapan senada juga disampaikan peserta lain yang mewakili komunitas penggiat olahraga sepeda. Ia menyoroti minimnya ruang terbuka hijau di Lampung akibat alih fungsi lahan menjadi kawasan bisnis.
“Bagi kami para penggiat olahraga seperti pesepeda kami sangat berterima kasih karena telah dikumpulkan di sini. Kalau bicara tentang lingkungan sangat luar biasa seperti yang sudah disebutkan tadi, bahwa Lampung masuk kategori paling miskin kawasan hijaunya karena dijadikan tempat-tempat bisnis”.
Rangkaian Cycling for Ecojustice ditutup dengan sesi foto bersama seluruh panitia dan peserta, menjadi penanda semangat kolektif untuk terus menyuarakan keadilan ekologis, tak hanya lewat kampanye di jalan, tapi juga lewat kebiasaan hidup sehari-hari yang lebih ramah lingkungan.